Sunday, September 2, 2018

"SETITIK KEINDAHAN DALAM SEJUTA GARIS ESTETIKA LAYANG-LAYANG BALI"

"SETITIK KEINDAHAN DALAM SEJUTA GARIS ESTETIKA LAYANG-LAYANG BALI" 



Layang-layang sebagai sebuah benda seni tidak hanya mengandung nilai-nilai keluhuran yg termuat dan nampak pada fisiknya. Namun konteks dan masa (waktu) telah membawa layang-layang menjadi sebuah benda yg tidak kalah indah dan populernya dengan permainan bola pada FIFA Wold cup. 


Bentuk pipih dengan struktur bangunnya yg tersusun dari bambu, kain dan tali, menjadi kerangka dasar visual tampilannya. Namun di balik struktur fisiknya itu layang2 sebagai sebuah benda seni mengandung kerumitan, kesungguhan dan kesatuan yang nampak malui indahnya ulat-ulatan (anyaman) bambu sebagai kerangka serta komposisi warna yang kian tahun semakin berkembang seiring majunya sumber daya pendukungnya. Jelantik (1990) dalam eatetika instrumentalnya mengemukakan struktur dapat terdiri dari asas-asas kerumitan, kesungguhan, dan kesatuan. Salah satu contoh layang-layang Janggan Bali yang merupakan interpretasi naga, serta layang-layang be-bean yang merupakan interpretasi ikan di laut. Keindahan yang dinikmati melalu faculty of taste (panca indra manusia) secara visual digugah melalui rangkain warna, ukuran, komposisi warna dan penampilan liukan layang2 dengan juntaian gleber (liukan kain) pada ikuh (ekor) dan kepes (sirip) layang-layang. Pendengaran manusia terhibur oleh riuhan "guangan" (susunan sepotong bambu atau batang palem dengan lempiran pita, rontal atau penyalin (rotan)) yang memberi kesan seolah olah layang-layang dapat berbicara dan menari dengan lihai di luasnya samudra tanpa air. 


Kerangka dan ukuran yang berpadu dengan tali berukuran besar yang merupakan kesatuan material yang berbeda memberi kesan keberpaduan atas asas kesatuan organis dan asas tata jenjang yang memberi senssasi batek (kuat) yang dirasakan pemain ketika memainkan dan menarik layang-layang yang tertiup angin kencang sebagai bentuk nikmat indahnya. Sebuah komposisi warna yang terdiri dari 3-4-lebih rangkaian warna memberi kesan dan sentuhan kerumitan dalam kreativitas pada pengembangan terhadap "asas tema", "variasi menurut tema" dan "asas pengembangan menurut tema" menjadi dasar pengamatan terhadap layang-layang tidak statis yang mulanya menurut keterangan I Made Wasa (81 tahun) yang merupakan sesepuh layang-layang asal banjar Abian Kapas Kaja, Desa Sumerta, Denpasar Timur konon pada tahun 1950-an dulunya "penukub" (selubung) layang-layang terbuat dari karung semen atau kain perecah. 


Lebih lanjut perkembangan layang-layang dan pemainnya kini membawa seni tersebut semakin modern dan praktis. Selain kerumitan pada warna dan rangkain bambu yg tersusun sebagai kerangka, sistem knocdown (bongkar-pasang) menjadi salah satu trend yg diminati dalam penggunaannya sebagai model rangka pada tiga jenis layang-layang cirikas Bali yaitu jenis be-bean, pecukan dan janggan. Tidak hanya mempermudah mobilitas (pengangkutan) menuju spot event (tempat perluncuran atau perlombaan) namun hal ini juga menampakkan keindahan yang muncul aksi prktisitas pemasangan dan juga refleksi pengembangan pada wujud seni tradisi yang tidak statis. 

Dengan tanpa mengurangi penampilan elogan (liukan) layang-layang di udara, sistem pemasangan bermodel knockdown menjadi sebuah solusi yang berkembang dari penggiat dan pemerhati seni dan budaya pada fenomena macet yang disebabkan oleh mobilitas layang2 yg dulunya di angkut dalam bentuk yang sutuhnya. Sebagai sebuah benda seni tradisi keberlangsungan layang tidak terlepas dari filosopi serta kepercayaan terhadap fenomena "sesuhunan" (Yang Disucikan), dimana kepercayaan pada benerapa wilayah di Bali meyakini Dewa Rare Angon (dewa pengasuh anak-anak) bersemayam pada layang2. Seperti halnua di Desa Sumerta sendiri yang konon menyucikan sebuah layang-layang kupu-kupu sebagai manifestasi Dewa Rareangon, serta beberapa desa lainnya yang menyucikan bagian2 penting layang seperti halnya tapel (topeng) layang-layang janggan. Filosopi ini bermula pada kenyataan bahwa setiap rare (anak-anak) yang bermain layang-layang akan senang dan terhibur. Sama halnya dengan orang dewasa yang telah berkeluarga dan disibukkan oleh aktiftas soaial, akan melepas rasa jenuh dan penatnya ketika berkumbul bersama rekan sebaya dalam evet melayangan (bermain layang-layang). Filosopi atas teologi yang tertanam pada fenomena melayangan di Bali bahkan nampak pada beberapa perlombaan layang2, dimana terdapat para pelayang yang 'ngiringang' (mengiringi) 'sesuhunan' yang berkeinginan mesolah (menari) turut pula diterbangkan, dan ketika berhasil mengudara para pemain akan sangat bahagia, kegirangan dan bahkan melupakan segala permasalahannya. 



Hal tersebut menjadi bukti bahwa lango/kelangoan (rasa nikmat indah) pemainnya telah digugah. Bahkan dalam bebebara pengamatan dan obsevasi partisipan yang dilakukan, bermain layang-layang pada tahapan proses nikmat indah yang ekstrim membuat pemain lupa waktu, makan, rumah hingga anak. Secara tidak langsung hal ini menyatakan apa yang dikatakan Jelantik sebagai sesatuan/unity dan kesungguhan/intensity yang terefleksi melalui aktifitas pemain layang-layang. Estetika imajinasi sartre (Suryajaya, 2016: 720) yang bergerak pada arah fenomenologi menyatakan suatu siatem oprasi imajinasi yang dinyatakan melalui tiga hal 1. Menganggap obyek sebagai hal yg tidak nyata; 2 menganggap obyek ada namun tak hadir; 3 menganggap obyek sebagai kemungkinan. Melalui pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa layang-layang khususnya di Bali dapat dikatakan sebagai benda seni yang dalam sudut pandang penciptaan karya seni merupakan hasil imajinasi dan interpretasi alam (naga, ikan dan lain-lain) yang dapat memberi rasa senang pada pemainnya dan penikmatnya. Hal ini secara tidak langsung membenarkan seruan estetika klasik yang berpandangan bahwa benda seni dapat dikatakan indah ketika mengandung proposisi dan fungsi yang baik bagi manusia. Namun dibalik keindahan layang-layang, hal yang harus tetap menjadi prinsip dalam proses permainan dan penikmatannya adalah berada pada batasan yang wajar dalam arti mengetangahkan lango itu sendiri sebagi batasan atas penciptaan dan penikmatannya. Layang-layang dalam perkembangan di era ini masih tetap bergerak pada prinsip dasar tersebut dikarenakan masyarakat pendukungnya menempatkan proposisi tertentu pada mekanisme pelaksanaanya seperti masa-masa satu tahun sekali dan siselanggarakan dalam event2 tertentu dengan sistem (kriteria, peserta, dan tema pelaksanaan dan penyelenggara) yang baik. Apabila hal ini tetap terselenggara nisacaya keindahan dan keberlangsungan layang-layang sebagai sebuah benda budaya akan tetap ajeg (lestari)

I DK Wicaksandita